pertemuan untuk mu ...
Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya, walau harus menunggu seribu tahun lamanya, biarkanlah terjadi wajar apa adanya walau harus menunggu seribu tahun lamanya, selama apapun itu. Aku akan setia menunggu.
Aku mendengar lagu itu, lagu dari salah satu band terbaik di Indonesia, jikustik ...
ini bukan masalah band-nya tapi masalah lirik lagunya yang sedikit menyinggung hatiku, entah ini yang ke berapa kali aku memutar lagu ini, menggambarkan kekasih, kekasihku disana,? Tahun yang lalu aku mendengar lagu ini dan membangkitkan kenangan-kenangan manis antara aku dan dirinya.
Bagaimana aku menyakinkan dirinya untuk menjadi kekasihku, menyakinkan diriku juga untuk menjadi kekasihnya kala jarak yang terbentang memisahkan kita.
Setidaknya lagu ini selalu membuka ingatan seperti kaset yang melesat memutarkan lantunan lagu, seperti itulah aku melesat mengingat awal aku mengenalnya. Ah, aku ketidak sengajaan itu membuat aku jatuh cinta.
xxx
Sudah seminggu aku ta memberikan satu pesan singkat untuknya, sekedar menelponpun aku enggan. Bukan aku sudah tidak mencintainya lagi melainkan aku tak ingin menjadikan rindu ini beban untuknya dan beban untuk ku juga, aku masih sangat mencintainya.
Aku tahu, dia pasti menunggu kabar dariku dan mengkhawatirkan keadaan ku disini. Aku bodoh selalu acuh tak acuh dengannya tapi, dia sudah tahu sikap ku seperti apa yang selalu membiarkannya begitu saja, dan tidak seperti dia yang selalu menceritakan ke sehariannya pada ku melalui e-mail yang dia kirim setiap minggu entah tentang sekolahnya, film yang sudah dia tonton dan banyak hal aneh yang senang dia dapatkan akupun hanya membaca setengah dari surat yang dia beri.
pernah kita bertengkar saat dia mulai jenuh dengan sikap cuek ku tapi, aku tahu dia sedang terbawa emosi ke rinduannya. Saat aku mulai mengabarinya setelah satu minggu tak memberi kabar dengannya, percakapan yang masih sangat ku ingat.
"Hai sayang ... maaf ya aku gak ngabarin kamu, takutnya aku malah tambah kangen kamu, mau ketemukan susah."
aku menelponnya disela-sela kesibukan ku.
"Iya, kemana aja kamu. Aku nunggu kabar malah kamu asik sama kuliah kamu kuliah aja terus, gak tahu ya sama orang kangen." jawabnya sedikit tinggi dan sedikit membentak ku.
"Aku kuliah sayang, mengertilah. kan aku sering ngetweet aktifitasku, jadi gak mesti ngabarin ke kamu juga, itu kamu udah tahu kan lewat twitter. Oh ya gimana dengan sekolahmu, tugas-tugas sudah selesai? sini aku bantuin deh, bantuin nyusahin hehehe" balasku dengan suara tanpa nada tinggi sepertinya, aku mencoba untuk sedikit menghiburnya.
"Hmmm .... sebenernya kamu anggap aku apa sih, aku juga mau jadi prioritas utama kamu, ngabarinnya tuh disms bukan di twitter. Lagian aku kan jarang buka twitter apa lagi kepoin kamu, tugas udah selesai semua kok, gak perlu. Kamu ngabarinnya aja jarang malah niat mau bantuin, gak sadar yaa." dengan nada yang sama tinggi dan tambah sedikit menggerut.
"Kalo kamu mau jadi prioritas ya gak bisa. Kamu tahukan, aku tadi udah bilang, aku kalo sms atau telpon kamu setiap hari nanti aku malah tambah kangen dan kamu juga, makanya aku sibuk untuk mengalakan rasa kangen ini ke kamu. Iyaa, tugas itu cuman untuk basa-basi aja ko sama kamu, abis kamu galak banget jawabnya relaks dong kita ini lagi jauh jangan berantem yaa." mungkin dengan penjelasan seperti ini aku berharap kamu akan sedikit mengerti.
"Aku ini pacar kamu, masa nggak boleh minta jadi prioritas kamu, sedikitpun dalam sehari. Kamu ngabarin aja seminggu sekali, gimana aku bisa percaya dulu, kamu pernah bilang komunikasi bisa menyakinkan pasangannya. Iya kita udah jauh kamu jangan sering cari masalah biar aku gak marah-marah kaya sekarang." gerutnya semakin menjadi, aku putuskan untuk sudahi percakapan ini dan melanjutkan dengan kesibukan ku. Masih ada kesibukan ku yang bermanfaat di banding dengan debat panjang yang aku rasa ini hanya akan buang-buang waktu dan melelahkan hati.
"Oke, aku usahain kamu jadi prioritas aku yaa kali ini skakmat deh, kalo kamu suka bilang aku yang dulu-dulu, dulu aku baik banget ya sampe banyak nasihat yang sekarang aku ingkari dan nasihat itu kamu yang ingetin malah jadi senjata utama kamu. Ya udah aku mau lanjutin tugas kuliah dulu, jangan lupa makan kalo capek istirahat aku gak mau kamu sakit. Love you." ucap ku dengan suara terburu-buru.
"Iya, kamu semangat kuliahnya, jangan lupa makan sama istirahat." dengan nada sedikit tidak terima, karna percakapan ini aku yang menyudahi.
Percakapan tadi, percakapan yang sudah tidak terhitung lagi telat ku buat dengannya. Aku tahu dia sangat merindukan ku. Tapi, caranya membuat dia semakin salah, menjawab pertanyaan yang ku beri dengan nada yang tinggi, memperbesar masalah yang semula kecil menjadi gunung, bahkan gunung itu tiba-tiba meledak. Ini yang aku takutkan dengannya masalah itu menjadikan kita sebagai bom waktu. Menyimpan satu persatu, kita saling dia lalu kita meledak dengan satu kalimat yang menyakitkan; Jenuh.
Aku tak ingin hubungan yang sudah ku bangun dengan susah paya, pengorbanan yang tidak sedikit, merelakan dia sendiri hanya untuk menunggu ku disini dan hanya karena masalah sepele hubungan jarak jauh berakhir dengan sia-sia karena jenuh, itu bukanlah solusi putus yang logis. Aku terdiam selama lima belas menit saat mengingat kalimat jenuh. Satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan adalah pertemuan. Maka, aku atur jadwal pertemuan dengannya, akhir bulan aku akan menemuinya.
Dan sengaja aku tak memberikan kabar kalo aku akan ke kotanya, ini surprise, ini hadiah untuknya yang selama ini mampu menunggu ku disini.
Aku mendengar lagu itu, lagu dari salah satu band terbaik di Indonesia, jikustik ...
ini bukan masalah band-nya tapi masalah lirik lagunya yang sedikit menyinggung hatiku, entah ini yang ke berapa kali aku memutar lagu ini, menggambarkan kekasih, kekasihku disana,? Tahun yang lalu aku mendengar lagu ini dan membangkitkan kenangan-kenangan manis antara aku dan dirinya.
Bagaimana aku menyakinkan dirinya untuk menjadi kekasihku, menyakinkan diriku juga untuk menjadi kekasihnya kala jarak yang terbentang memisahkan kita.
Setidaknya lagu ini selalu membuka ingatan seperti kaset yang melesat memutarkan lantunan lagu, seperti itulah aku melesat mengingat awal aku mengenalnya. Ah, aku ketidak sengajaan itu membuat aku jatuh cinta.
xxx
Sudah seminggu aku ta memberikan satu pesan singkat untuknya, sekedar menelponpun aku enggan. Bukan aku sudah tidak mencintainya lagi melainkan aku tak ingin menjadikan rindu ini beban untuknya dan beban untuk ku juga, aku masih sangat mencintainya.
Aku tahu, dia pasti menunggu kabar dariku dan mengkhawatirkan keadaan ku disini. Aku bodoh selalu acuh tak acuh dengannya tapi, dia sudah tahu sikap ku seperti apa yang selalu membiarkannya begitu saja, dan tidak seperti dia yang selalu menceritakan ke sehariannya pada ku melalui e-mail yang dia kirim setiap minggu entah tentang sekolahnya, film yang sudah dia tonton dan banyak hal aneh yang senang dia dapatkan akupun hanya membaca setengah dari surat yang dia beri.
pernah kita bertengkar saat dia mulai jenuh dengan sikap cuek ku tapi, aku tahu dia sedang terbawa emosi ke rinduannya. Saat aku mulai mengabarinya setelah satu minggu tak memberi kabar dengannya, percakapan yang masih sangat ku ingat.
"Hai sayang ... maaf ya aku gak ngabarin kamu, takutnya aku malah tambah kangen kamu, mau ketemukan susah."
aku menelponnya disela-sela kesibukan ku.
"Iya, kemana aja kamu. Aku nunggu kabar malah kamu asik sama kuliah kamu kuliah aja terus, gak tahu ya sama orang kangen." jawabnya sedikit tinggi dan sedikit membentak ku.
"Aku kuliah sayang, mengertilah. kan aku sering ngetweet aktifitasku, jadi gak mesti ngabarin ke kamu juga, itu kamu udah tahu kan lewat twitter. Oh ya gimana dengan sekolahmu, tugas-tugas sudah selesai? sini aku bantuin deh, bantuin nyusahin hehehe" balasku dengan suara tanpa nada tinggi sepertinya, aku mencoba untuk sedikit menghiburnya.
"Hmmm .... sebenernya kamu anggap aku apa sih, aku juga mau jadi prioritas utama kamu, ngabarinnya tuh disms bukan di twitter. Lagian aku kan jarang buka twitter apa lagi kepoin kamu, tugas udah selesai semua kok, gak perlu. Kamu ngabarinnya aja jarang malah niat mau bantuin, gak sadar yaa." dengan nada yang sama tinggi dan tambah sedikit menggerut.
"Kalo kamu mau jadi prioritas ya gak bisa. Kamu tahukan, aku tadi udah bilang, aku kalo sms atau telpon kamu setiap hari nanti aku malah tambah kangen dan kamu juga, makanya aku sibuk untuk mengalakan rasa kangen ini ke kamu. Iyaa, tugas itu cuman untuk basa-basi aja ko sama kamu, abis kamu galak banget jawabnya relaks dong kita ini lagi jauh jangan berantem yaa." mungkin dengan penjelasan seperti ini aku berharap kamu akan sedikit mengerti.
"Aku ini pacar kamu, masa nggak boleh minta jadi prioritas kamu, sedikitpun dalam sehari. Kamu ngabarin aja seminggu sekali, gimana aku bisa percaya dulu, kamu pernah bilang komunikasi bisa menyakinkan pasangannya. Iya kita udah jauh kamu jangan sering cari masalah biar aku gak marah-marah kaya sekarang." gerutnya semakin menjadi, aku putuskan untuk sudahi percakapan ini dan melanjutkan dengan kesibukan ku. Masih ada kesibukan ku yang bermanfaat di banding dengan debat panjang yang aku rasa ini hanya akan buang-buang waktu dan melelahkan hati.
"Oke, aku usahain kamu jadi prioritas aku yaa kali ini skakmat deh, kalo kamu suka bilang aku yang dulu-dulu, dulu aku baik banget ya sampe banyak nasihat yang sekarang aku ingkari dan nasihat itu kamu yang ingetin malah jadi senjata utama kamu. Ya udah aku mau lanjutin tugas kuliah dulu, jangan lupa makan kalo capek istirahat aku gak mau kamu sakit. Love you." ucap ku dengan suara terburu-buru.
"Iya, kamu semangat kuliahnya, jangan lupa makan sama istirahat." dengan nada sedikit tidak terima, karna percakapan ini aku yang menyudahi.
Percakapan tadi, percakapan yang sudah tidak terhitung lagi telat ku buat dengannya. Aku tahu dia sangat merindukan ku. Tapi, caranya membuat dia semakin salah, menjawab pertanyaan yang ku beri dengan nada yang tinggi, memperbesar masalah yang semula kecil menjadi gunung, bahkan gunung itu tiba-tiba meledak. Ini yang aku takutkan dengannya masalah itu menjadikan kita sebagai bom waktu. Menyimpan satu persatu, kita saling dia lalu kita meledak dengan satu kalimat yang menyakitkan; Jenuh.
Aku tak ingin hubungan yang sudah ku bangun dengan susah paya, pengorbanan yang tidak sedikit, merelakan dia sendiri hanya untuk menunggu ku disini dan hanya karena masalah sepele hubungan jarak jauh berakhir dengan sia-sia karena jenuh, itu bukanlah solusi putus yang logis. Aku terdiam selama lima belas menit saat mengingat kalimat jenuh. Satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan adalah pertemuan. Maka, aku atur jadwal pertemuan dengannya, akhir bulan aku akan menemuinya.
Dan sengaja aku tak memberikan kabar kalo aku akan ke kotanya, ini surprise, ini hadiah untuknya yang selama ini mampu menunggu ku disini.
Komentar