Membiasakan diri tanpamu
Ini tentang bagaimana aku mulai membiasakan otakku tidak lagi mengingat namamu...
Berawal dari kenyataan pedih yang kucerminkan dari tatapan nanarku ke atas kamar kecilku.
Membaca dalam lubuk hatimu yang ternyata memang sudah lama ingin mengucapkan selamat tinggal.
Ini tentang bagaimana aku mulai membiasakan otakku tidak lagi mengingat namamu...
Demi rasa kasihku, aku masih ingin bertahan, deminya pula aku masih mengasihimu, sampai detik aku menuliskan kepingan-kepingan rintihanku ini.
Namun, aku tidak bisa hanya mengutamakan "demi" yang aku angung-agungkan! Ini persoalan hati, kamu, aku, KITA!
Memang benar katamu, waktulah yang nantinya yang akan membawa kita ke kata perpisahan itu, dan sekarang itu semua benar terjadi.
Sulit sekali tidak lagi bisa memandangmu dengan kebiasaanku, sulit sekali untuk tidak lagi memperhatikanmu, dengan setiap jengkal aliran kalimatku. Sulit melepaskan bayang-bayangmu pada setiap anggukan senajaku...
Yah, janji bertahun tahun yang kutunggu itu tak kunjung ada yang sanggup memenuhinya untukku...
Otakku mulai panik! Ia mulai bereaksi lagi... Meski sudah banyak larangan- larangan agar tidak lagi memikirkanmu (yang sudah mengakhiri kisah denganku) namun ia masih saja dengan nakal mengingat jadwal bangun tidurmu, jadwal sarapanmu, sampai jadwalmu untuk tidur kembali, meski tanpa komando lagi...
Akhirnya, setelah bertahun lamanya kepanikan menguasai otakku, setelah kewarasan hampir tak kukenali lagi, aku menemukan cahaya itu, cahaya di mana aku tak bisa terus-terusan begini.
Aku tak mungkin menunggu yang tak ingin ditunggu, aku tak mungkin berharap pada yang tak memberi harapan.
Dan, hatiku mulai breaksi (meski terlambar)....
Ia mulai sadar tiada arti semua tangis, air mata, ratapan, dan perasaan kehilangan yang terbuang percuma...
Kini, setelah sekian lama dengan usahanya, ia tak lagi merindukanmu...
Ini sunggu tak ada lagi waktu merenungkan yang dahulu...
Kamu, sepenggal kisah masa lalu yang memberi harapan baru pada kehidupan baru.
Berawal dari kenyataan pedih yang kucerminkan dari tatapan nanarku ke atas kamar kecilku.
Membaca dalam lubuk hatimu yang ternyata memang sudah lama ingin mengucapkan selamat tinggal.
Ini tentang bagaimana aku mulai membiasakan otakku tidak lagi mengingat namamu...
Demi rasa kasihku, aku masih ingin bertahan, deminya pula aku masih mengasihimu, sampai detik aku menuliskan kepingan-kepingan rintihanku ini.
Namun, aku tidak bisa hanya mengutamakan "demi" yang aku angung-agungkan! Ini persoalan hati, kamu, aku, KITA!
Memang benar katamu, waktulah yang nantinya yang akan membawa kita ke kata perpisahan itu, dan sekarang itu semua benar terjadi.
Sulit sekali tidak lagi bisa memandangmu dengan kebiasaanku, sulit sekali untuk tidak lagi memperhatikanmu, dengan setiap jengkal aliran kalimatku. Sulit melepaskan bayang-bayangmu pada setiap anggukan senajaku...
Yah, janji bertahun tahun yang kutunggu itu tak kunjung ada yang sanggup memenuhinya untukku...
Otakku mulai panik! Ia mulai bereaksi lagi... Meski sudah banyak larangan- larangan agar tidak lagi memikirkanmu (yang sudah mengakhiri kisah denganku) namun ia masih saja dengan nakal mengingat jadwal bangun tidurmu, jadwal sarapanmu, sampai jadwalmu untuk tidur kembali, meski tanpa komando lagi...
Akhirnya, setelah bertahun lamanya kepanikan menguasai otakku, setelah kewarasan hampir tak kukenali lagi, aku menemukan cahaya itu, cahaya di mana aku tak bisa terus-terusan begini.
Aku tak mungkin menunggu yang tak ingin ditunggu, aku tak mungkin berharap pada yang tak memberi harapan.
Dan, hatiku mulai breaksi (meski terlambar)....
Ia mulai sadar tiada arti semua tangis, air mata, ratapan, dan perasaan kehilangan yang terbuang percuma...
Kini, setelah sekian lama dengan usahanya, ia tak lagi merindukanmu...
Ini sunggu tak ada lagi waktu merenungkan yang dahulu...
Kamu, sepenggal kisah masa lalu yang memberi harapan baru pada kehidupan baru.
Komentar